Bos Pajak Baru dari ‘Kacamata’ Para Kolega

Jakarta, CNN Indonesia — Awal pekan pertama Bulan Desember ini menjadi permulaan bagi Robert Pakpahan untuk mengemban tugas sebagai Direktur Jenderal Pajak baru. Memulai hari dengan setumpuk ‘pekerjaan rumah’ yang harus dikebut hanya dalam jangka waktu sebulan demi mencapai target tahunan.

Di saat bersamaan, Robert juga meninggalkan tugas lamanya sebagai pucuk pimpinan di Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (DJPPR Kemenkeu) yang telah digenggam sejak 2012.

Tentu saja ia juga meninggalkan rekan-rekan yang selama lima tahun terakhir bekerja bersama menyusun sekaligus menjalankan strategi berutang untuk negara. Tak dipungkiri, momentum itu memberi kesan tertentu bagi para kolega.

Direktur Strategi dan Portofolio Pembiayaan Scenaider Clasein Siahaan misalnya, menilai Robert sebagai orang yang berani mengambil keputusan, dan terbuka terhadap pendapat rekan kerja, baik saran maupun kritik pedas sekalipun.

Robert juga dikenal sangat baik dalam menjalankan sinergi, baik dari dalam direktorat, maupun dengan kementerian atau lembaga lain. Ia dipandang sebagai pekerja yang memiliki orientasi melayani cukup baik.

“Artinya, kalau ada kementerian/lembaga lain yang membutuhkan, beliau akan menyuruh melayani dengan cepat. Jadi orientasi melayaninya tinggi, tipikal pegawai negeri,” ungkapnya saat dihubungi CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.

Scenaider berharap, mantan bosnya itu bisa menerapkan sinergi yang sama baik di DJP, terutama di lingkungan internal dan eksternal direktorat dengan jumlah pegawai terbesar itu.

Menurut dia, selama ini masyarakat berkomentar bahwa DJP terlalu berorientasi pada penerimaan fiskal. Dengan kepemimpinan baru Robert yang berorientasi memberi pelayanan sekaligus bersinergi dengan pemangku kepentingan lain, maka kinerja DJP diproyeksi bisa turut mendorong perekonomian.

Direktur Surat Utang Negara Loto Srinaita Ginting juga tak ketinggalan memberi testimoni. Menurut dia, Robert merupakan seorang pemimpin yang cerdas, baik, ramah, dan bijaksana dalam mengambil keputusan.
“Harapan saya, semoga Pak Robert diberi kekuatan dan kesuksesan memimpin DJP maupun meningkatkan tax ratio lebih baik,” tuturnya.

Melalui keterangan tertulis, Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo meminta Robert Pakpahan menuntaskan agenda reformasi pajak. Hal itu meliputi, perbaikan kebijakan dan regulasi, perbaikan administrasi, manajemen sumber daya manusia, dan proses bisnis.

“Dirjen Pajak yang baru diharapkan dapat membuka komunikasi dan kerjasama dengan para pemangku kepentingan, baik institusi pemerintah lainnya, asosiasi usaha, konsultan pajak, akademisi, masyarakat sipil. Hal untuk membangun pemahaman bersama dan saling percaya,” ujar Yustinus.

Selain itu, penegakan hukum yang adil dan terukur serta fokus pada mereka yang “memilih di luar sistem dan tidak membayar pajak” perlu menjadi prioritas dan patut didukung.

“Semoga terpilihnya Dirjen pajak yang baru membawa harapan baru yang lebih baik bagi dunia perpajakan Indonesia,” ujarnya.

Menurut Yustinus, tugas seorang Dirjen Pajak saat ini sangat berat. Pasalnya, DJP merupakan institusi besar dan penting sehingga harus dipastikan kredibel, akuntabel, profesional, dan dapat bekerja efektif meraih kepercayaan publik dan membangun kepatuhan pajak.

Dirjen Pajak yang baru harus dapat memastikan bahwa pemungutan pajak akan didasarkan pada kejelasan, kepastian, konsistensi, keadilan, mengedepankan program dan tindakan yang moderat, terukur, profesional, dan melakukan konsolidasi internal.

“Hal ini didasarkan pada fakta dibutuhkannya situasi yang kondusif bagi stabilitas dan pemulihan dan perekonomian, termasuk mengurangi gejolak dan tekanan politik,” ujarnya.

Bagi Yustinus, Robert adalah salah satu pejabat senior di lingkungan Kementerian Keuangan yang lama berkarir di DJP dan pernah mengawal reformasi pajak, sebelum menjadi Staf Ahli Menkeu dan Dirjen Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko Kemenkeu.

“Kekayaan pengalaman, kredibilitas, kompetensi, dan jaringan yang luas menjadi modal penting Robert Pakpahan dalam memimpin Ditjen Pajak saat ini. Kami mengucapkan selamat bertugas dan semoga sukses,” ujarnya.

Lebih lanjut, Yustinus juga menyampaikan apresiasi dan selamat purna tugas kepada pimpinan DJP sebelumnya Ken Dwijugiasteadi yang telah memasuki masa pensiun.

“Ken Dwijugiasteadi akan tercatat dalam sejarah perpajakan Indonesia sebagai dirjen yang sukses mengantarkan pelaksanaan pengampunan pajak,” ucapnya.

Mantan Bos Pajak Ingin Jadi Sopir Taksi Online

Ken Dwijugiasteadi resmi pensiun dari jabatannya sebagai Dirjen Pajak mulai 1 Desember 2017 atau berakhir pada akhir November 2017.

Ken mengatakan, setiap Dirjen Pajak tentu memiliki gayanya masing-masing dalam mengemban tugasnya dan bersikap sehari-hari. Ia sendiri mengakui dirinya memiliki gaya “urakan” selama ini.

“Pasti kan beliau punya program sendiri. Tapi semua sesuai ketentuan,” kata Ken.

Masa pensiun Ken datang karena umurnya yang telah menginjakan angka 60 tahun. Meski begitu, ia mengaku seringkali disebut masih berumur 59 tahun.

“Orang bilang saya 59 tahun ya,” imbuhnya.

Tak memiliki rencana yang spesifik setelah pensiun, tetapi dengan nada bercanda, Ken mengungkapkan jika dirinya ingin menjadi sopir taksi online setelah pensiun.

“(Mau) jadi sopir online,” katanya singkat. (lav)

Sumber: CNNINDONESIA.COM, 04 Desember 2017

Artikel Terkait

Terpopuler