CITA Kecewa dengan Sikap Ditjen Pajak kepada Raffi Ahmad

Jakarta, CNN Indonesia — Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) kecewa dengan sikap Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak perihal pemeriksaan terhadap dugaan harta mobil mewah selebritis Raffi Ahmad yang tidak dituntaskan.

Direktur Eksekutif CITA Yustinus Prastowo mengaku kecewa dengan penyelesaian yang anti-klimaks dan kurang mendidik. Ia menilai hal itu barangkali juga karena harapannya yang terlampau muluk.

“Raffi bukan VVIP, apalagi di ketentuan perpajakan, tidak ada wajib pajak VVIP. Tentu saja haknya untuk melakukan klarifikasi, dan itu baik. Tapi sudah menjadi pakem bahwa klarifikasi itu ada prosedurnya,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (8/8).

Di situlah, lanjutnya, peran Account Representative (AR) dalam bimbingan dan pengawasan. Ia menilai masalah Raffi bisa diarahkan untuk diselesaikan di Kantor Pajak Pratama (KPP). 

Menurutnya, jika penjelasan bisa diterima setelah AR melakukan penelitian, tentu saja Raffi, dan siapapun, berhak untuk mengklaim telah patuh pajak.

“Penyelesaian yang terburu-buru dan terkesan hanya ingin memanfaatkan momentum untuk sosialisasi, juga mengorbankan kesempatan emas untuk menyisir potensi maha berlimpah di dunia digital. Terutama fokus ke selebgram dan selebtwit,” jelas Yustinus.

“Saya khawatir cara-cara penyelesaian tingkat tinggi, seperti dulu dilakukan terhadap Ketua BPK saat kasus Panama Papers, justru mempersulit dan membatasi ruang gerak petugas pajak.” 

Menurut Yustinus, siapapun berhak menuntut perlakuan yang sama di muka hukum, termasuk di hadapan pemerintah, termasuk terhadap para pejabat pajak di lapangan.

Usai pertemuan itu, Ken memberikan klarifikasi melalui video yang diunggah di Twitter DJP, yang menyebutkan bahwa pemilik mobil mewah tersebut bukan Raffi Ahmad, melainkan seorang importir.

“Raffi telah melakukan klarifikasi bahwa yang diberitakan kemarin soal mobil sudah jelas, karena Raffi sebagai bintang iklan dan pemilik mobil ini adalah importir, yang (mobilnya) belum laku. Nanti kalau sudah laku, ya saya minta kepada yang membeli tolong dilaporkan di dalam SPT-nya,” kata Ken dalam video yang diunggap pada Senin malam (7/8). (gir)

“Belum lagi dalam kasus mobil mewah ini, saya tak pernah berhasil mengingat dan mengeja namanya, menyisakan beberapa tanya: jika pemiliknya bukan Raffi, lantas siapa? Importir. Apakah dia importir resmi yang sudah sesuai prosedur?” katanya.

“Dan jika itu bukan milik Raffi, kenapa bisa memakai pelat nomor yang biasa dipakai Raffi? Dan hebatnya, Raffi bisa menggunakan pelat ‘RFS’, yang biasa digunakan para pejabat negara.”

Yustinus menambahkan, saat ini merupakan kesempatan bagi Ditjen Pajak, Ditjen Bea Cukai, dan Polri untuk turun tangan dan membuktikan sinergi yang sudah digaungkan.

Di tengah simpang siur, menurut Yustinus ini cara terbaik bagi otoritas dalam menjaga kewibawaan adalah berjarak dengan realitas, dan bersabar membiarkan hukum dan prosedur berjalan normal.

“Saya termasuk orang yang getir dan muak dengan pamer harta di media sosial. Dan amat berharap pajak, melalui otoritas, bisa menjadi penawar dahaga saya akan kehadiran negara yang mampu mengurangi celah ketimpangan, merekatkan kembali ikatan sosial, dan menghukum dengan fair siapapun yang dengan sengaja menggelembungkan ego narsistiknya dan mengorbankan tata krama dan tenggang rasa hidup bersama,” tegas Yustinus.

Seperti diketahui, Raffi mendatangi Kantor Pusat DJP untuk menemui Direktur Jenderal Pajak Ken Dwijugiasteadi dan memberikan klarifikasi atas mobil mewah yang diduga merupakan salah satu dari harta dari suami Nagita Slavina itu.

Sumber: cnnindonesia.com, 8 Agustus 2017

Artikel Terkait

Terpopuler