Dana Repatriasi Diprediksi Maksimal hanya Rp 145 Triliun

TEMPO.CO, Jakarta – Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo memprediksi jumlah repatriasi yang terkumpul hingga akhir periode program pengampunan pajak maksimal mencapai Rp 145 triliun. Jumlah tersebut cenderung stagnan sejak periode pertama berakhir September lalu. “Repatriasi tak akan bergerak lagi karena tarif sudah tinggi,” kata Yustinus kepada Tempo, Ahad, 19 Maret 2017.

Data statistik program pengampunan pajak pada awal Oktober 2016 atau sepekan setelah periode pertama berakhir menunjukkan dana repatriasi yang terkumpul mencapai Rp 141 triliun. Tarif repatriasi pada periode pertama paling rendah 2 persen. Saat ini, tarif repatriasi mencapai 5 persen.

Kendati demikian, kata Yustinus, hasil repatriasi tak akan berdampak terhadap penerimaan pajak pada kuartal pertama tahun ini. Proyeksi seluruh penerimaan amnesti pajak hanya masuk penghitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2016.

Direktorat Jenderal Pajak melaporkan total harta berdasarkan surat pernyataan harta (SPH) yang disampaikan mencapai Rp 4.539 triliun. SPH itu terdiri atas deklarasi dalam negeri Rp 3.372 triliun, deklarasi luar negeri Rp 1.021 triliun, dan repatriasi Rp 145 triliun.

Adapun realisasi berdasarkan surat setoran pajak (SSP) yang diterima mencapai Rp 115 triliun. Jumlah itu terdiri atas pembayaran tebusan senilai Rp 107 triliun, pembayaran tunggakan Rp 7,23 triliun, dan pembayaran bukti permulaan Rp 866 miliar.

Yustinus memperkirakan jumlah tebusan amnesti yang terkumpul hingga 31 Maret 2017 maksimal mencapai Rp 125 triliun. “Pemerintah tinggal struggle memanfaatkan data wajib pajak baru,” kata dia.

Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Hestu Yoga Saksama mengatakan terus menggaet wajib pajak yang akan mengajukan permohonan hingga akhir program. “Sulit memprediksi berapa banyak yang akan ikut, tapi kami bersiap dengan kekuatan paling maksimal,” ujar Yoga.
PUTRI ADITYOWATI | GHOIDA RAHMAH

Sumber: Tempo.co, 20 Maret 2017

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan.

Terpopuler