Ditjen Pajak Wajib Kepoin Harta Artis Seperti Raffi Ahmad di Medsos

Jakarta¬†– Tindakan ‘kepo’ atau serba ingin tahu yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak (Ditjen Pajak) memantau potensi pajak di seluruh lini sektor merupakan hal yang sah-sah saja. Sehingga tidak kebobolan oleh pembayar pajak.

Hal tersebut diungkapkan Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Selasa (8/8/2017).

Pemantauan yang dilakukan Ditjen Pajak terkait dengan potensi pajak dari para penggunanya, terutama para artis Indonesia menjadi hal yang wajar.

“Saya kira tidak masalah, malah bagus untuk database, profiling, dan menggali potensi,” kata dia.

Prastowo menyebutkan, aksi pantau Ditjen Pajak di dunia media sosial seperti yang dilakukan kepada Raffi Ahmad juga tidak hanya asal, melainkan melihat dari apa yang diunggah wajib pajak tersebut. Misalnya para artis Indonesia yang gemar memamerkan harta di jejaring sosial media.

“Kalau dari perspektif saya, DJP berhak mengimbau atau minta klarifikasi, dan wajib pajak juga berhak menjelaskan,” jelas dia.

Mengenai soal kenyamanan, Prastowo menilai hal itu kembali ke masing-masing individunya, jika tidak ingin mendapat imbauan maka sebaiknya tidak pamer harta kekayaan di sosial media. Namun, hal itu juga tidak semata-mata luput dari pantauan pajak. Sebab, Ditjen Pajak memiliki data terkait dengan pajak.

“Tapi idealnya memang teguran tidak di medsos, tapi imbauan, saya malah setuju pajak jadi alat menakut-nakuti biar orang tidak narsis,” tukas dia.(mkj/mkj)

Sumber: Detik.com, 8 Agustus 2017

Artikel Terkait

Terpopuler