Inilah 3 Modus Pebisnis RI Terseret Panama Papers

INILAHCOM  | 09 April 2016

2016_04_07-10_14_48_00c2e52b02425665edaa338faf1e82d4_620x413_thumb

INILAHCOM, Jakarta – Terkuaknya dokumen Panama Papers yang berisikan daftar orang atau perusahaan yang diduga menghindar pajak, bikin heboh. Di Indonesia, banyak kelompok bisnis yang masuk.

Direktur Eksekutif CITA (Center for Indonesia Taxation) Yustinus Prastowo mengatakan, kelompok bisnis asal Indonesia yang masuk Panama Papers memiliki tiga alasan atau modus.

Di mana, lanjut Pras, sapaan akrabnya, grup bisnis asal Indonesia itu, menjalin kerja sama bisnis dengan Mossack Fonseca, sebuah firma hukum asal Panama itu. Dengan begitu, mereka bisa menyimpan duit dalam jumlah besar di negara tax havens (surga pajak).

Soal 3 modus grup bisnis yang masuk Panama Papers, Pras menerangkan satu per satu. Pertama, modusnya adalah murni aksi korporasi. Di mana, seseorang mendirikan perusahaan di negara tax havens untuk berbagai keperluan. Semisal, menjual obligasi, membeli saham, atau melakukan ekspansi bisnis.

“Menurut saya ada tiga modus atau kategori, pertama murni aksi korporasi. Mereka (pengusaha) melakukannya karena administrasinya mudah, kerahasiaan terjamin, serta untuk antisipasi kebankrutan,” papar Pras dalam sebuah diskusi di Jakarta, Sabtu (09/04/2016).

Modus kedua lanjut Pras, pendirian perusahaan di negara suaka pajak, bermotif untuk menyembunyikan aset dari hasil bisnis ilegal, seperti korupsi. Hal ini, jelaslah sebuah aksi pelanggaran hukum. “Ini adalah modus dari pengusaha untuk menyembunyikan uangnya dengan menyimpan di negara tax havens,” terang Pras.

“Modus ini banyak terjadi di pengusaha, politisi, dan pejabat kita. Mereka menyimpan uangnya di sana. Selain aman juga tidak kena pajak,” lanjut Pras.

Modus ketiga, papar Yustinus, aksi ini bertujuan memang untuk menghindari pajak, sehingga perusahaan bisa lebih efisien. Karena, mereka hanya dibebankan biaya pajak yang murah.

Nah, masih kata Prastowo, khusus modus pertama dan ketiga, wilayahnya masih bisa abu-abu alias belum jelas. Untuk itu, Direktorat Jenderal Pajak perlu melakukan pengujian terlebih dahulu. “Apakah perusahaan tersebut melanggar aturan atau tidak,” paparnya.

Cara identifikasinya, kata Yustinus, sederhana sana. Misalnya dengan menyelidiki ada tidaknya aktivitas bisnis yang dilakukan oleh perusahaan di negara tax havens tersebut.

“Jika tidak ada, maka itu bisa diindikasikan praktik tax evasion, dan dapat dikenakan sanksi. Saya kira Panama Papers adalah puncak gunung es dari segala permasalahan pajak di dunia, khususnya Indonesia,” papar Yustinus.[ipe]

– See more at: http://ekonomi.inilah.com/read/detail/2286986/inilah-3-modus-pebisnis-ri-terseret-panama-papers#sthash.CfGtKgBs.dpuf

Artikel Terkait

Terpopuler

More in CITAX
Namanya Masuk Panama Papers,Pengusaha RI Adem Ayem
Sejarah dan Seluk Beluk Tax Havens
TOP BISNIS: Surga Pengemplang Pajak Indonesia hingga Aksi Jokowi di Brebes
Close