Jalan Panjang Menyingkap Ribuan Triliun Harta WNI di Luar Negeri

FacebookTwitterWhatsAppLineGoogle+

KOMPAS.com – Puluhan wartawan sibuk dengan peralatan liputan masing-masing saat Tommy Soeharto (54), keluar dari ruangan dan menghampiri pria berkaca mata di depan meja dengan map hitam di tangannya.

Saat map dengan tulisan amnesti pajak di dalamnya diberikan, pria dengan nama lengkap Hutomo Mandala Putra itu tak bisa menyembunyikan bahagianya.

“Alhamdulillah semua berjalan lancar,” ujar pengusaha yang juga Putra Presiden ke-2 RI Soeharto itu.

Tommy Soeharto adalah salah satu pengusaha yang secara terbuka mengumumkan ikut program tax amnesty September tahun lalu. Meski sempat ragu, ia memutuskan untuk membawa pulang hartanya dari luar negeri ke Indonesia (repatriasi) melalui program tax amnesty.

Angkanya? tentu saja dirahasiakan. Namun Tommy hanya satu dari sekian banyak fenomena konglomerat RI yang lebih memilih menyimpan sejumlah hartanya di negeri orang ketimbang di negerinya sendiri.

Harta di Luar Negeri

Kegemaran warga negara Indonesia (WNI) menyimpan harta di negeri orang bukanlah cerita kemarin sore. Namun seberapa besar dan di negara mana harta-harta itu disimpan, masih jadi pertanyaan.

Sebagian mungkin sudah dilaporkan, sebagian lagi mungkin disembunyikan. Hingga saat ini, data berapa total harta WNI di luar negeri memang simpang siur.

Lembaga riset internasional, McKinsey misalnya, memperkirakan harta WNI di luar negeri mencapai Rp 3.250 triliun. Angka lebih “gila” justru disampikan Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Harta WNI di luar negeri ditaksir lebih dari Rp 11.000 triliun.

Angka itu hampir setara dengan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2015 yang mencapai Rp 11.540 triliun. Angka itu juga setara dengan 11,2 persen dana gelap diseluruh dunia yang mencapai Rp 97.000 triliun seperti diungkapkan ekonom Univesity of California, Gabriel Zucman dalam penelitiannya.

Terlepas dari keraguan sejumlah pihak, pemerintah menjadikan data itu sebagai salah satu argumen merilis kebijakan anyar bernama tax amnesty. Tujuannya jelas, menyingkap dan memberikan kesempatan kepada WNI untuk mengungkap harta-harta di luar negeri yang selama puluhan tahun tak terjamah pajak.

Jalan Masih Panjang

Program tax amnesty memang sudah berakhir pada 31 Maret 2017 lalu. Jumlah harta dari luar negeri yang dilaporkan hanya Rp Rp 1.179 triliun. Rinciannya, Rp 1.032 triliun deklarasi luar negeri dan Rp 147 triliun dana yang dibawa pulang ke Indonesia.

Bila dibandingkan angka Rp 11.000 triliun data pemerintah atau Rp 3.250 triliun data McKinsey, realisasi tax amnesty tentu masih kecil.

Terlepas berhasil atau tidaknya tax amnesty, langkah pemerintah menyingkap harta WNI yang mungkin masih disembunyikan di luar negeri masih panjang dan tak hanya bisa mengandalkan pada Automatic Exchange of Information (AEoI) yang mulai diberlakukan pada 2018.

“AEoI akan membantu, tetapi tidak cukup,” ujar Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo.

Bagaimanapun, fitur AEoI sangat terbatas. Sebab informasi yang dipertukarkan antar negara yakni hanya sebatas data keuangan perbankan. Sementara itu, harta WNI di luar negeri tidak hanya berupa dana di bank namun juga aset non-bank. Mulai dari properti, bisnis, hingga kepemilikan saham.

Peneliti Indef Ahmad Heri Firdaus mengatakan, AEoI tidak akan mudah diterapkan. Sebab, setiap negara memiliki kepentingan masing-masing dan akan berusaha menjaga kepentingan tersebut.

“Bukankah masing-masing negara memiliki kepentingan agar investor asing simpan dana di sana, jadi mereka punya kepentingan,” kata Ahmad.

Bahkan kebijakan itu akan lebih sulit dipraktikkan di negara-negara yang sangat bergantung kepada dana asing.

Biasanya negara-negara tersebut memiliki tarif pajak kecil. Jadi kesimpulannya ke depan, pemerintah jangan hanya tergantung kepada AEoI semata. Sebab kebijakan itu tidak bisa menjadi solusi satu-satunya untuk menyingkap harta WNI yang belum terungkap.

Artinya, jalan untuk menyingkap harta WNI di luar negeri masih terjal. Perlu segenap daya dan upaya untuk melaluinya.

Sumber: Kompas.com, 10 April 2017

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler