Tak Laporkan Harta Wajib Pajak Didenda 200%

JAKARTA –Di rektorat Jenderal Pajak (Ditjen Pajak) meminta wajib pajak segera melaporkan har tanya yang tersembunyi. Sebab jika tidak dilaporkan dan harta tersebut di temukan petugas pajak, wajib pajak tersebut terancam denda 200%.

Aturan itu tertuang dalam Per – atur an Menteri Keuangan (PMK) No 165/PMK.03/2017 ten tang Pelaksanaan Program Peng ampunan Pajak yang me – ru pakan revisi PMK No 118/ PMK.03/2016. Revisi PMK ter sebut memberi kesempatan la gi bagi wajib pajak yang tidak ikut amnesti pajak dan bagi pe – ser ta amnesti pajak yang belum me laporkan seluruh hartanya. Direktur Jenderal Pajak Ke – men terian Keuangan (K e men – keu) Ken Dwijugiasteadi me – nga takan, pemerintah me ner – bit kan PMK 165/2017 untuk mem berikan keadilan dan men dorong kepatuhan bagi wa jib pajak, baik yang ikut am – nes ti pajak maupun yang tidak.

”Pada intinya, ini bukan tax am nesty jilid 2 karena sangat ber – be da. Kalau amnesti, pe me rik sa – an tidak dilakukan. Tapi ka lau ini dilakukan pe me rik sa an se pan – jang datanya di te mu kan DJP,” ujar nya di Jakarta, kemarin. Menurutnya, PMK 165/ 2017 ini juga untuk me mu dah – kan wajib pajak peserta tax am – nesty mendapatkan hak is ti – me wa nya, yaitu insentif bebas Pa jak Penghasilan (PPh) saat me lakukan balik nama atas har ta yang telah di dek lar a si – kan.

PMK 165/2017 ini meng – atur mengenai prosedur per pa – jak an bagi wajib pajak yang me – la porkan aset tersembunyi se – be lum aset tersebut ditemukan Di rektorat Jenderal Pajak. Prosedur yang selanj utnya di – se but Pengungkapan Aset se ca ra Su k arela dengan Tarif Fi nal (PASFinal) ini memberi ke sem pat an ba gi seluruh wajib pa jak yang me – mi liki harta yang ma sih be lum di – la porkan dalam SPT Ta hun an 2015 maupun SPH untuk meng – u ng kapkan sen diri aset ter sebut de ngan mem bayar pa jak peng ha – sil an se suai dengan tarif.

Ken memaparkan, PPh u n – tuk orang pribadi umum 30%, ba dan umum 25%, dan orang pri badi/badan tertentu (peng – h asilan usaha atau pekerjaan be bas kurang dari Rp4,8 miliar dan/atau karyawan dengan peng hasilan kurang dari Rp632 juta dengan tarif 12,5%. Mengingat pengungkapan di l akukan sendiri oleh wajib pa – jak sebelum aset tersebut di te – mu kan Ditjen Pajak, maka ke – ten tuan sanksi dalam Pasal 18 UU Pengampunan Pajak ti dak ber laku bagi wajib pajak yang me – man faatkan prosedur PAS-Fi – nal.

”Harta yang dapat di ung kap – kan adalah harta yang diperoleh wa jib pajak sam pai dengan 31 De sember 2015 dan masih dim i – liki pada saat itu,”kata Ken. Direktur Peraturan Per pa jak – an II Yunirwansyah me nga ta – kan, PMK 165/2017 tidak meng – atur batas waktu secara je las terkait kapan wajib pajak meng – ungkapkan hartanya. Se pan jang Ditjen Pajak belum me ne mukan, maka harta yang te lah di – laporkan terbebas dari sank si administratif sebesar 200%.

”Di PMK 165 terkait pe lak – sa naan lebih lanjut setelah tax amnesty, ada dua konsekuensi bagi wajib pajak yang ikut mau – pun yang tidak ikut. Pertama, bi sa jadi mereka yang uangnya di dalam negeri terus di pin dah – kan ke luar negeri, kemudian ma sih ada harta lain belum me – re ka laporkan atau WP yang ti – dak ikut TA masih diberikan ke – sem patan,”ujarnya. Menteri Keuangan (Men – keu) Sri Mulyani Indrawati me – nga takan, PMK 165/2017 mem berikan kesempatan un – tuk menumbuhkan kepatuhan wa jib pajak yang tidak memiliki ba tas waktu.

”Dari sisi ke pen – ting an, wajib pajak patuh itu le – bih baik. Daripada ditemukan har ta yang belum dilaporkan, ma ka akan terkena sanksi dan ka mi tidak akan segan mem be – ri kan sanksi itu,”ujarnya. Sri Mulyani juga meminta DJP agar bisa melayani wajib pa jak yang patuh secara mak si – mal. ”Dengan UU Nomor 9 Ta – hun 2017 dan juga adanya per – tu karan informasi perpajakan (Au tomatic Exchange of In for – ma tion/AEoI), maka DJP me – mi liki kapasitas untuk men de – tek si dan mengumpulkan in – for masi jauh lebih efektif. Di ma na pun wajib pajak me le tak – kan hartanya, kemungkinan ka mi mendapatkan informasi sa ngat besar,”katanya.

Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Ana ly – sis (CITA) Yustinus Prastowo me ngatakan, PMK tersebut da – pat memfasilitasi wajib pa jak yang sudah ikut tax am nes ty, namun belum sepenuhnya ju – jur agar patuh. Selain itu, bagi yang belum ikut tax amnesty, ta pi takut ketahuan dan di ke – na kan sanksi bisa ikut. “Se ha – rus nya dengan PMK ini ke pa – tuh an pajak meningkat dan wa jib pajak dapat m e man faat – kan ini sebelum berlakunya AEoI,” jelas dia.

Oktiani endarwati

Sumber: KORAN-SINDO.COM, 28 November 2017

Artikel Terkait

Terpopuler